Kegiatan

Displaying items by tag: renungan sumur yakub

Konfrater sekalian, para suster, saudara/i yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Saya mulai renungan ini dengan satu cerita pengalaman sederhana. Empat tahun lalu, saya masih bekerja di salah satu pulau wilayah paling selatan Filipina, di sebuah pulau perbatasan (border crossing) dengan Indonesia yang penduduknya predominantly muslim. Waktu itu hari Lebaran, saya berinisiatif mengujungi seorang sahabat, tokoh Muslim dan imam yang cukup berpengaruh di pulau itu untuk bersilaturahmi. Saya membawa sebuah baju batik khas Indonesia sebagai hadiah. Setiba di rumahnya saya diterima dengan sangat ramah. Dia dan keluarga senang sekali, tetapi yang membuat saya kagum adalah ketika pulang, dia menaruh sebuah bingkisan di tas saya. Ketika tiba di pastoran, saya membuka bingkisan tersebut, ternyata isinya adalah sebuah Alquran, Kitab Suci agama Islam, dalam dua versi, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Ada secarik kertas, di halaman depan, dengan tulisan, “Kita semua ada di jalan yang sama, sebagai pembaca dan pewarta Sabda Allah.”

 

Secuil pengalaman sederhana tidak hanya sekedar, sebuah peringatan (reminder) bagi saya pribadi sebagai seorang biarawan misionaris pewarta Sabda, tetapi Sabda Tuhan sebenarnya bisa menjadi terang di semua situasi, bahkan di tengah situasi yang super jamak sekalipun. Sabda Tuhan mempererat, bukan meretakan, ia mempersatukan bukan melepas-pisahkan.

 

Dan ini senada dengan semangat awal mendiang Paus Fransiskus, ketika mencanangkan Hari Minggu Sabda Allah, tujuh tahun silam di tahun 2019. Pada tanggal 30 September 2019, pada peringatan Santo Hironimus, Paus Fransiskus menerbitkan Surat Apostolik, Aperuit Illis, berupa Motu Proprio (atau atas inisiatifnya sendiri), menetapkan Hari Minggu Sabda Allah. Dalam artikel 3 surat tersebut, Paus Fransiskus menulis, “bahwa Hari Minggu Ketiga Masa Biasa diperuntukan bagi perayaan, pendalaman, dan penyebaran Sabda Allah”. Lebih lanjut Paus Fransiskus menyatakan bahwa perayaan Hari Minggu Sabda Allah ini memiliki nilai ekumenis, karena Kitab Suci, bagi mereka yang mendengarkan, menunjukkan jalan yang perlu diikuti untuk mencapai kesatuan yang otentik dan kokoh”.

 

Jika kita menelisik kisah Yesus dalam Kitab Suci, barangkali orang yang paling memahami buah Sabda Allah yang membebaskan adalah seorang yang dianggap kafir, seorang perwira Romawi. Setelah memohon kepada Yesus agar menyembuhkan hambanya yang sakit, dan ketika melihat kesediaan Tuhan, dengan segera ia menyatakan diri tidak layak menerima Yesus di rumahnya dan berkata, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku akan sembuh” (Mat 8:8). Satu Sabda dari Kristus sudah cukup baginya untuk memiliki harapan yang pasti akan kesembuhan. 

 

Konfrater sekalian, para suster, saudara-saudari yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Tahun ini, di masa Paus Leo ke-14, perayaan Minggu Sabda mempunyai bentuk yang lebih baik.  Dicastery for evangelization, atau Dewan Kepausan untuk Evangelisasi menerbitkan buku panduan liturgis dan pastoral untuk perayaaan Minggu Sabda Allah yang ketujuh dengan tema “Hendaknya perkataan Kristus diam di antara kamu” (Kol 3:16). Tema ini diambil dari kata-kata peneguhan Santo Paulus kepada umat di Kolese. Yang diungkapkan rasul Paulus bukan hanya sekedar nasihat moral, melainkan petunjuk pada satu cara hidup baru. Paulus tidak meminta agar Sabda hanya didengar atau dipelajari, tetapi ia menghendaki agar Sabda itu tinggal, yakni berdiam secara tetap, membentuk cara berpikir kita, menuntun keinginan-keinginan kita, agar kesakisian kita menjadi lebih nyata dan dipercaya.

 

Perayaan Minggu Sabda Allah hari ini tentu menjadi lebih bermakna karena bertepan dengan perayaan Pertobatan Santo Paulus. Sabda yang disampaikan Kristus kepada Paulus di jalan menuju Damsyik telah menghujam hatinya sedemikian dalam, hingga menjadikannya pewarta Injil dan rasul yang handal seperti yang kita kenal. Tugas kita, tentu, memastikan agar Sabda yang sama itu, berdiam di antara kita dan menjangkau ke semua orang dalam karya pewartaan kita zaman ini.

 

Sekarang saya ajak kita untuk melihat bacaan-bacaan suci hari, lebih khusus bacaan injil dari Matius, yang berkisah tentang bagaimana misi pewartaan Yesus dimulai. Ada empat hal yang tertuang dalam teks injil hari ini. Pertama, peristiwa penggenapan Firman yang disampakan para nabi terdahulu, seperti juga yang kita dengar dalam bacaan pertama hari ini, “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain; bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat Terang yang besar, dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut telah terbit Terang.” Terang itu, tidak lain adalah Yesus sendiri, Sang Sabda yang menjelma dan mengambil bagian dalam rupa manusia. Terang yang membuka mata iman. Kedua, ada seruan pertobatan dari Yesus, Sang Sabda itu sendiri, “Bertobatlah kerajaan Surga sudah dekat”. Ketiga, ajakan untuk mengikuti Sang Sabda, mengikuti Yesus Sang Guru, “Mari ikutlah aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia”, dan keempat, pada akhirnya Sabda itu diwartakan di rumah-rumah ibadat dan kuasa Sang Sabda, segala penyakit dan kelemahan di antara para bangsa dilenyapkan. Alur bacaan injil membentuk sebuah pola; dari iluminasi terang, menuju rekonsiliasi dalam ajakan pertobatan, kemudian diikuti dengan vokasi, sebuah panggilan untuk menjadi murid Sang Sabda, dan pada akhirnya bermuara pada misi, pewartaan Sabda Allah itu sendiri.

 

Konfrater sekalian, para suster, saudara/I yang terkasih dalam Sang Sabda.

 

Apa yang bisa kita petik dari perayaan hari Minggu Sabda Allah ini? Kita adalah biarawan misionaris pewarta Sabda SVD, atau juga pencinta dan pewarta Sang Sabda.  Pembukaan Konstitusi SVD memberikan jawaban, “Di dalam nama serikat kita, terungkaplah pengabdian yang khusus kepada Sabda Allah dan perutusannya. Hidup-Nya adalah hidup kita, perutusan-Nya adalah perutusan kita. Dan moto Serikat Sabda Allah adalah, our name is our mission (Nama kita adalah misi kita). Kita semua dipanggil untuk menjadi misionaris pewarta Sabda.

 

Jika kembali ke awal abad silam, pada tanggal 30 Januari 1901, Paus Leo ke-13 secara resmi mensahkan nama serikat kita menjadi SERIKAT SABDA ALLAH. Malam harinya ada ibadat ucapakan syukhur (Te Deum) atas pemberian nama itu, dan sejak awal, Santo Arnoldus Janssen percaya bahwa dengan nama itu, pendiri Serikat yang sesungguhnya adalah Sang Sabda, Tuhan sendiri. Sebelumnya, dalam rumusan Kapitel Jenderal SVD yang pertama tahun 1885, Pater Arnoldus menjelaskan Sabda Allah mesti dipahami dalam kerangka hubungan yang istimewah dengan setiap pribadi Ilahi; Sabda Bapa, Sabda Putra, dan Sabda Roh Kudus. Sabda Bapa tidak lain adalah Sang Putra, pribadi kedua Tritunggal Mahakudus. Sabda Putra adalah injil, cinta kasih Bapa yang diwartakan. Sabda Roh Kudus, adalah Dia yang mengilhami dan berbicara melalu Kitab Suci serta membentuk Gereja, tubuh mistik Kristus. Roh Kudus itu pula lah yang memberi kekuatan untuk pewartaan kerajaan Allah di seluruh penjuru dunia, bahwa di dunia yang tidak mengenal Kristus sekalipun.  

 

Dua hal yang mungkin bisa kita lakukan. Pertama, berakar pada Sang Sabda (rooted in the Word of God) dan kedua, setia menjadi pewarta Sabda. Berakar dalam Sang Sabda berarti kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, tinggal di dalam kita, atau membiarkan hidup kata-kata-Nya bukan hanya diresapi, tetapi juga, secara lebih radikal hidup kita mesti dirasuki oleh Sang Sabda itu sendiri. Sementara, setia menjadi pewarta Sabda berarti kita semua dipanggil untuk meneruskan karya pewartaan yang diwariskan oleh Yesus Sang Guru dan para rasul kepada kita sebagai pengikut Kristus. Sebagai seorang biarawan misionaris SVD, kita semua adalah pewarta Sabda zaman ini. Salah satu nama resmi serikat kita (SVD) dalam bahasa Inggris adalah the Divine Word Missionaries, atau Misionaris Pewarta Sabda. Sabda yang kita dengar, baca, dan hidupi mesti juga diwartakan kepada semua orang.  

 

Saya menutup renungan ini dengan sebuah puisi yang saya kutip dari sebuat surat untuk misionaris di tanah misi yang ditulis oleh mahasiswi PKK (Pendidikan Keagamaan Katolik) IFTK Ledalero tingkat 1. Puisinya berjudul, “Jalan Menuju Sang Sabda”.

 

Panggilan menuju Sang Sabda,

Bukan semata keinginan hati yang tersembunyi,

Bukan sekedar impian yang terbang tinggi,

Namun suara hati yang merasuk sukma,

Memanggil jiwa untuk melayani, penuh setia.

 

Jalan ini berliku, sering kali tak pasti,

Terjal mendaki, terkadang badai menghampiri,

Namun di setiap langkah, ada tangan terkasih,

Menopang, menuntun, menjauhkan diri dari letih

Menempa jiwa menjadi bejana penuh cahaya,

Agar tak tersesat, tak kehilangan makna.

 

Tuhan memberkati.

Published in Renungan

“Firman yang Hidup dan Misi yang Dipercayakan”
(Yes. 52:7–10; Ef. 3:8–12.14–19; Yoh. 1:1–5.9–14.16–18)

Saudara-saudari dan para konfrater terkasih,
hari ini adalah Hari Raya Santo Arnoldus Janssen, pendiri Serikat Sabda Allah. Kita merayakannya sebagai Hari Raya SVD, Hari Raya pertama sesudah kemeriahan Yubileum 150 tahun berdinya SVD. Gereja mengajak kita tidak hanya untuk mengenang sejarah, tetapi juga untuk membaca kembali roh panggilan dan keteguhan iman yang terwujud dalam langkah-angkah kecil dan konkrit dari Sang Pendiri yang melahirkan SVD dan dua serikat misi lainnya: SSpS dan SSpSAP.

  1. Sesungguhnya Kabar Baik Datang Melalui Kaki yang Sederhana

(Yesaya 52:7–10)

Dalam Kitab Nabi Yesaya Bab 52 yang baru saja kita dengan, Sang Nabi berseru: “Betapa indahnya kaki orang yang membawa kabar baik.”
Kabar baik itu bukan pertama-tama datang lewat kekuatan politik atau kemegahan institusi, tetapi lewat langkah-langkah sederhana para pewarta yang percaya bahwa Tuhan sendirilah yang hadir dan bekerja dalam keseharian hidup mereka.

Santo Arnoldus Janssen adalah contoh nyata. Ia bukan tokoh besar dalam struktur Gereja zamannya. Ia adalah imam sederhana, sering diragukan, bahkan ditolak. Namun ia percaya: jika karya ini berasal dari Allah, maka Allah sendiri yang akan menumbuhkannya. Iman teguh pada penyelenggaraan ilahi membuatnya berani melangkah, walaupun terkadang tampak kecil dan sederhana, meskipun masa depan tidak pasti.

  1. Bukankah Misi Lahir dari Rahmat, dan bukan dari Ambisi Pribadi atau Kelompok?

(Efesus 3:8–12.14–19)

Dalam surat kepada jemaat di Efesus, (dalam bacaan kedua hari ini) Rasul Paulus berkata dengan jujur: “Kepadaku, yang paling hina di antara semua orang kudus, dianugerahkan rahmat ini.”
Kesadaran akan kerendahan hati inilah yang juga hidup dalam diri Arnoldus Janssen. Ia tahu: misi bukan miliknya, melainkan milik Allah. Ia hanya alat.

Dari iman yang dalam itu lahirlah keberanian besar: mendirikan tiga serikat misi, masing-masing dengan karisma khas, tetapi satu roh yaitu menghadirkan Sabda Allah bagi dunia. Bukan karena perhitungan manusiawi, melainkan karena keyakinan bahwa kehendak Allah akan terwujud bila manusia taat dan setia di bawah bimbingan Roh Allah mencontohi Yesus Tuhan Penyelamat.

  1. Apakah Firman yang Menjadi Manusia Menjadi Dasar Segala Misi Kita?

(Yohanes 1:1–5.9–14.16–18)

Prolog Injil Yohanes menegaskan: “Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.”
Inilah jantung spiritualitas SVD. Firman tidak tinggal di langit, tetapi masuk ke dalam sejarah, ke dalam budaya, ke dalam bahasa, dan dalam penderitaan manusia.

Arnoldus Janssen memahami hal ini dengan sangat konkret. Ia mengutus misionaris bukan untuk membawa diri mereka sendiri, tetapi untuk mendengarkan, untuk belajar, untuk hadir dan tinggal bersama umat. Misi adalah inkarnasi yaitu hadir dan tabah, sabar dan  tekun, setia dan rendah hati.

  1. Manakah Tantangan dan Peluang Mengikuti Teladannya?

Hari ini, tantangan kita berbeda, tetapi tidak lebih ringan seperti:

  • tantangan sekularisasi dan indiferentisme iman,
  • tantangan dunia digital yang cepat tetapi dangkal, yang instan anti proses,
  • tantangan konflik identitas, konflik budaya, dan konflik agama,
  • kelelahan rohani dan rutinitas karya.

Namun justru di situlah peluangnya:

  • di situlah peluang menjadi pewarta Firman yang relevan dan membumi,
  • di situlah peluang membangun dialog lintas budaya dan agama dengan kerendahan hati,
  • di situlah peluang menghadirkan komunitas yang bersaudara di tengah dunia yang terfragmentasi,
  • di situlah peluang memperbarui misi dari dalam: lewat doa pribadi dan bersama yang tekun, lewat adorasi yang khusuk, dan pendalaman spiritualitas Sang Sabda.
  1. Apa Pesan Relevan bagi SVD Hari Ini?

Hari Raya ini menantang kita, para anggota SVD dan seluruh keluarga besar misi, untuk bertanya dengan jujur:

  • Apakah kita masih percaya sungguh pada penyelenggaraan ilahi, atau lebih mengandalkan strategi dan struktur?
  • Apakah kita masih rendah hati sebagai pelayan Firman, atau tergoda menjadi pemilik karya?
  • Apakah Sabda Allah sungguh kita hidupi, atau hanya kita wartakan?

Santo Arnoldus Janssen mengingatkan:
kesetiaan kecil (dalam langkah-langkah kecil dan sederhana) yang dijalani dengan iman besar dapat melahirkan karya besar dalam rencana Allah.

Penutup

Saudara-saudari terkasih,
hari ini kita bersyukur atas kesaksian hidup dan karya misi Santo Arnoldus Janssen—seorang yang sederhana, rendah hati, dan sepenuhnya percaya bahwa kehendak Allah pasti terlaksana. Kiranya teladannya meneguhkan kita untuk terus menjadi pembawa Sabda yang hidup, setia pada misi, dan berani melangkah, sekalipun langkahnya kecil dan sederhana, walaupun jalannya ke masa depan penuh tantangan.

Semoga Roh Kudus yang sama yang menuntun Santo Arnoldus Janssen, juga membimbing SVD hari ini dan di masa depan.

Amin.

Published in Renungan
Wednesday, 05 January 2022 14:44

Renungan Harian, 5 Januari 2022

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus

Rasa cemas, takut, gelisah dan khawatir dalam hidup adalah perasaan hakiki manusiawi kita yang tidak bisa dipungkiri. Setiap orang dan kita sekalian sudah mengalami perasaan-perasaan demikian. Bahkan, kadang ada yang hampir putus asa, menyerah dan tak berdaya dalam hidup ini. Akhirnya terkadang kita menyalahkan Tuhan, " Mengapa harus terjadi situasi seperti ini"? "Mengapa harus terjadi padaku musibah atau penderitaan ini"?
Inilah pertanyaan-pertanyaan yang barangkali muncul atau ada dalam benak kita, ketika kita berada dalam situasi ketidakberdayaan hidup.

Lantas, apakah kita tetap dan mau bertahan dalam situasi perasaan-perasaan negatif demikian. Apakah kita akan mengalami kebahagiaan bila terus mempersalahkan keadaaan sampai mempersalahkan Tuhan? Seolah-olah Tuhan penyebab semuanya ini.

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus.

Sebuah syair indah dan kata bijak pernah sya mendengarnya dan membacanya. Bunyinya demikian. " Ketika hujan tiba, janganlah berdoa untuk meminta hujan reda atau pun berhenti karena hujan akan tetap ada, tetapi berdoalah agar Tuhan menguatkan payung hidupmu dan kamu dapat dan kuat menghadapi dan mengalami hidup ini"

"Sebuah musik yang harmonis tercipta dari nada mayor dan minor dan ada tambahan musik jenis yang lainnya".

Saudara/i yang terkasih dalam Kristus

Dengan kasih, iman dan harap kepada Tuhan, hidup ini, hidup kita akan selalu mengalami syukur dan berkat dalam kasih Tuhan. Mungkin inilah makna terdalam seruan Yesus kepada Murid-Murid-Nya
"Tenanglah, Aku ini jangan takut"
Seruan Yesus dalam bacaan Injil yang kita renungan hari ini sangat memberikan inspirasi hidup sekaligus meneguhkan iman kita sebagai orang kristen. Seruan ini memberikan makna terdalam bagi kita bahwa "hanya dalam kasih Tuhan, kita mengalami kepenuhan hidup"
Tuhan tidak terlalu cepat, Tuhan juga tidak terlambat.
Tetapi Kasih-Nya dan Berkat-Nya selalu ada dan hadir untuk kita setiap saat.

Semoga.

Published in Renungan
Thursday, 08 October 2020 10:05

Renungan harian, Kamis, 8 Oktober 2020

Luk 11:5-13; Gal 3:1-5

Mintalah maka kalian akan diberi

Mengapa ada orang katolik tergoda untuk pergi ke dukun, peramal gunung kawi dkk? Sayapun pernah mengalami hal yang sama.

Meskipun telah menjadi pengikut Kristus ada kesulitan bukannya minta bantuan Yesus namun pergi ke orang pintar.
Hal ini dialami juga oleh pengikut Kristus perdana, sehingga rasul Paulus marah besar dan menyebut mereka sebagai orang bodoh.
Memang setelah menyadari kerja Roh yang sudah kita terima, layaklah kita sebagai pengikut Kristus disebut orang bodoh, tolol, dungu, bebal, ngak tau diuntung dkk jika masih melakukan keinginan daging.

Keinginan daging yang paling sulit untuk kita tinggalkan yaitu ego yang melekat di dalam diri kita masing masing, sehingga Roh Kudus sulit bekerja secara penuh di dalam diri kita sehingga kita masih mudah marah, tersinggung, berpikiran negatif dkknya.

Tuhan telah menganugrahi kita dengan Roh belimpah limpah dan Ia telah melakukan mujizat setiap hari kepada kita, namun kita tidak menyadarinya.
Jika mengalami masalah apapun Ia telah berjanji: mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Ia menganugrahi kita dengan Roh bukan karena kita melakukan kewajiban agama kita dengan baik, namun terutama karena kita percaya kepada pewartaan Injil.

Apakah kita berani menyerahkan segala perkara kepada Tuhan?

Selamat beraktifitas Tuhan memberkati

Oleh : Benny Sudrajat (Paroki Yakobus Kelapa Gading Jakarta)

Published in Renungan
Sunday, 28 June 2020 16:38

RENUNGAN HARI MINGGU BIASA XIII

Setiap kali saat berlive-in, kita selalu diterima dengan baik oleh orang-orang dan saat hendak pulang dari tempat live in, kita selalu diberikan ‘tanda mata’ baik itu sarung, selendang dan sebagainya. Pelbagai ‘tanda mata’ tersebut bukan hanya pemberian cenderamata semata, tetapi juga sebagai ‘tanda bukti’ bahwa telah ada suatu pertemuan yang mendalam, di mana ada ikatan keakraban, karena itu sebuah ‘tanda mata’ merupakan pemberian yang layak untuk dikenang.

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

Dalam bacaan pertama kita mendengar cerita tentang nabi Elisa yang diterima dengan baik dalam rumah perempuan kaya dari Sunem. Hospitalitas yang ditunjukkan perempuan kaya kepada Nabi Elisa dibalas dengan janji pemberian seorang anak laki-laki kepada pemilik rumah yang menampungnya. Di sini belas kasih Allah menyata dalam perkataan nabi sendiri dan sekaligus menjadi  ‘tanda bukti’ dan ‘tanda mata’  yang menjamin bawasannya “tahun depan, pada waktu seperti ini juga, engkau ini akan mengendong seorang anak laki-laki”. Sebuah tindakan kasih dibalas dengan tindakan kasih.

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

Kasih Allah yang tak berkesudahan dialami pemazmur sebagai ‘tanda mata’ dan ‘tanda bukti’ yang patut disyukuri, karena itu pemazmur bermadah “Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, karena kasih Tuhan tegak seperti langit.

Yesus dalam injil Matius memberikan pedoman-pedoman kepada murid-murid-Nya untuk mempratikkan tindakan kasih. Seorang murid diajak untuk mengasihi tanpa batas, bersedia memangul salib, tidak takut kehilangan nyawa, dan memiliki hospitalitas sebagai praksis dari tindakan kasih. Di sini, kasih bukan sebuah kata-kata kosong, melainkan sebuah tindakan praksis. 

Konftar yang terkasih dalam Kristus...

 ‘Tanda mata’ yang paling agung diberikan oleh yesus kepada kita adalah hidup baru. St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma mengingatkan kita semua bahwa, orang yang dibabtis dalam kematian Kristus, telah dikuburkan dan telah dibangkitkan untuk hidup baru.  Oleh karena itu,  agar  kita memperoleh ‘tanda mata’ yaitu: hidup baru dalam Kristus,  bacaan-bacaan suci hari ini mengajak kita untuk mempratikkan tindakan kasih:

Pertama, sebuah tindakan kasih tidak terbatas hanya kepada orang-orang yang sedarah ataupun sedaerah dengan kita, tetapi hendaknya juga kepada semua sesama manusia dan sesama ciptaan yang lain.

Kedua, sebuah tindakan kasih harus sempurna seperti kasih Yesus kepada manusia, tanpa pertimbangan untung rugi, mengasihi tanpa apa dan mengapa? sekalipun harus kehilangan.... bahkan nyawa.

Ketiga, sebuah tindakan kasih, nyata dalam sikap hospitalitas kita, dalam menerima sesama lain; terutama orang-orang kecil dan terpinggirkan. Semoga kita yang telah dibaptis dalam kematian Kristus serentak menjadi anggota Gereja dan keluarga besar Allah yang lanyak memperoleh ‘tanda mata’ yaitu hidup baru dalam Kristus.

 

=== AMIN ===

 
Published in Renungan
Sunday, 21 June 2020 19:58

HMB XII, Minggu, 21 Juni 2020

Gus Dur, presiden keempat RI, pernah membuat sebuah anekdot tentang polisi jujur. Katanya: “Di negeri ini, cuma ada tiga polisi yang jujur: patung polisi, polisi tidur, dan polisi Hoegeng”. (Apresiasi Gus Dur kepada Hoegeng yg jabatannya diturunkan karena selalu berhasil menegakkan kebenaran dlm menangani kasus2 yg ada).

Siapa Hoegeng? Hoegeng Iman Santoso, seorang Kapolri pada masa orde baru. Ia menjabat sebagai Kapolri sejak 9 Mei 1968 – 2 Oktober 1971. Hoegeng menjadi sosok panutan polisi yang jujur, karena ia sama sekali tak mempan dengan berbagai macam sogokan apa pun. “Selesaikanlah tugas dengan kejujuran dan kebenaran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam”.

Salah satu peristiwa yang membawa dampak malang bagi kariernya ialah ketika ia menangani kasus pemerkosaan yang dialami oleh Sumarijem, atau SUM, penjual telur ayam berusia 18 tahun. SUM membuat sebuah laporan kepada polisi, bahwa ia telah diperkosa beramai-ramai oleh beberapa pria di Klaten, pada 21 September 1970. Namun, laporannya membawa nasib malang untuknya. Bukannya mendapat pembelaan, ia justru dijatuhi hukuman penjara di Pengadilan Negeri Yogyakarta, atas tuduhan membuat laporan palsu.

Satu hari setelah Sum keluar dari penjara, Hoegeng berusaha mencari tahu fakta soal kasus ini. Hoegeng menegaskan: “Perlu diketahui bahwa kita tidak gentar menghadapi orang-orang gede siapa pun. Kita hanya takut kepada Tuhan yang Maha Esa. Jadi, kalau salah tetap kita tindak”. Dari hasil pencariannya, ternyata ditemukan keterlibatan sejumlah pejabat, yakni anak seorang pejabat dan seorang anak pahlawan revolusi diduga menjadi pelakunya. Terbongkarnya kasus ini menjadi penanda berakhirnya jabatannya sebagai Kapolri; ia diturunkan dari jabatannya.

***

Saudara/i terkasih,

Apa yg dialami polisi Hoegeng tentu dialami juga oleh semua orang yg berusaha berbuat baik dengan melawan kebiasaan buruk yang ada: korupsi, kolusi, nepotisme. Atau mereka yg berusaha berbuat baik dan benar tapi berhadapan dgn mereka yg punya kuasa dan jabatan.

Kristus telah mengalami hal seperti ini dalam karyaNya. Demikianlah IA menyadarkan para pengikutNya bahwa kita akan dibenci oleh semua orang yg tidak menyukai kebenaran.

Saudara/i terkasih,

Kita semua dipanggil dan dipilih Allah untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. Akan tetapi, bayang-bayang adanya rasa tidak suka atau kebencian dari para musuh Kristus, tentu membuat kita merasa cemas. Oleh karena itu, Kekuatan apakah yg harus kita miliki apabila kita harus berdiri tegar pada opsi menegakkan kebenaran dan mewartakan keselamatan yg diajarkan Allah.

  • Bagi kita yg dipanggil secara khusus, Kristus telah menasihati, menguatkan, dan membekali kita dengan RohNya. Yesus, dalam Injil Matius mengatakan: “Janganlah takut kepada mereka yg memusuhi kamu”. Allah tentu memperhitungkan semua jerih dan usaha kita dalam mewartakan Injil-Nya.
  • Kekuatan kita hanya pada Allah yg kita imani, yang memanggil dan mengutus kita. Untuk hal ini, kita bisa belajar dari Nabi Yeremia (bacaan I): meskipun kegentaran datang dari segala jurusan, tetapi Tuhan menyertai aku seperti pahlawan yg gagah. Kita juga bisa belajar dari iman pemazmur (mazmur tanggapan bait 1): Tuhan, karena Engkaulah, aku menanggung cela – ia mengeluh tapi juga menyerahkannya kpd Tuhan. Atau, kita bisa gunakan prinsip Hoegeng: “Selesaikanlah tugas dengan kejujuran dan kebenaran, karena kita masih bisa makan nasi dengan garam” – “Kita hanya takut kepada Tuhan yang Maha Esa”.
  • Kita diajak untuk tetap teguh dan kuat dalam iman kpd Tuhan, dlm setiap tugas dan pewartaan kita. Burung pipit saja Tuhan selamatkan, apalagi kita yg ditugasi Allah mewartakan Kabar Gembira dan keselamatan bagi umat-Nya. Saya yakin bahwa Tuhan akan menuntun kita dgn cara-Nya sendiri, asalkan kita tidak bosan berharap dan memohon bimbingan-Nya.

Semoga Roh Tuhan selalu lebih kuat menggerakkan dan memberanikan kita untuk berbuat semakin lebih baik dari hari ke hari.

Oleh P Avent Serundi, SVD (Misionaris Sanda Allah yang akan berkarya di Brazil Utara)

 
Published in Renungan
Friday, 10 April 2020 17:12

MENYIMAK MAKNA SALIB TUHAN

Tentang kematian, kita gemetar mendegarnya. Kita gentar menghadapi mala busuk suatu situasi, ketika masih ada orang, tanpa takut ingin membunuh, tanpa perspektif tentang suatu nilai yang final suka merancang kejahatan.

Perspektif memberi batas, dan batas itu menentukan keadilan. Pada hal keadilan dan kebenaran dalam arti yang sesungguhnya tak pernah akan terjangkau. Siapakah yang berhak atas keadilan dan siapa yang pantas memiliki kebenaran?

Dia harus menanggung salah - salah yang diputuskan oleh - yang tidak mengenal kebenaran. Mungkin ini adalah juga signal bahwa segala nilai digugat, yang universal dipersoalkan, dan yang hakiki diabaikan.

Namun, kekejian terjadi bukan karena segala yang universal lenyap dan perspektif tentang pengadilan berakhir, tetapi karena manusia terlalu gegabah menganggap dirinya sebagai tuan, kekuasaan yang dibangun melalui penggalangan relasi, dukungan dan yang kompromistik. Semuanya terjadi melalui aksi yang sepihak.

Manusia terlalu gampang menganggap dirinya sebagai titik pusat kebenaran. Totalitas subjek menjadi taruhan dan manusia cenderung ingin mengklaim kebenaran sebagai milik kepunyaanya. Dalam drama singkat perjumpaan Yesus dan Pilatus, ada tragedi besar tentang kebuataan terhadap kebenaran.   Di pengadilan itu, atas pertanyaan ‘apa itu kebenaran?’ Pilatus sengaja menutup mata, menyembunyikan diri dan tidak menghiraukan, meskipun kebenaran  berada di depannya.

Lebih dari sebuah nama, Pilatus memperlihatkan suatu karakter yang menyatu dan melekat dalam darah dan daging sebagai figur kotor, takut mengambil resiko, pintar bersandiwara dengan cara mencuci tangan untuk membebaskan diri dari tanggungjawab atas darah orang benar. 

Ketika orang Yahudi meminta untuk tidak menyematkan tulisan ‘raja orang Yahudi’ pada salib, Pilatus dengan sangat angkuh berkata ‘yang tertulis, tetap tertulis.’ Dia pula yang melontarkan kata-kata sadis pada pribadi Yesus sebelum penderaan: ‘lihatlah anak manusia !’ ecce homo.

Pergunjingan tentang misi kebenaran di tengah dunia telah menjadi pergunjingan historis yang melibatkan banyak pihak dan banyak trik. Misi kebenaran itu harus berhadapan dengan kekuasaan dunia yang buta.  Ada sandiwara, permainan kuasa gelap dalam banyak bentuk personifikasi. Figur Pilatus, misalnya adalah personifikasi kuasa dunia yang semena-mena. Sindirian “engkau tidak tahu bahwa saya berkuasa untuk membebaskan dan menyalibkan engkau,” tentu, lahir dari totalitas diri yang semu.

Di pihak lain, kekuasaan kebenaran, tampil dalam figur Yesus, sederhana, bertelanjang dada, tangan terikat, bermahkota duri, berbadan bilur dan luka. Memang, kebenaran dalam arti sesungguhnya adalah realitas apa adanya. Tanpa kepalsuan. Tidak membutuhkan kerumitan. Tanpa embel-embel. Polos. Yesus adalah figur kebenaran. Ia mengajarkan kebenaran, hidup-Nya adalah kebenaran. Kata-katanya adalah kebenaran. Bahkan seluruh diri-Nya adalah kebenaran. Di manapun Dia berada, pancaran kebenaran dialami:  yang buta melihat, yang tuli mendengarkan, yang lumpuh berjalan, dan bahkan yang mati dihidupkan kembali. Yesus adalah figur manusia suci yang menyelamatkan nyawa orang lain dengan mengorbankan nyawanya.

Sejarah dunia adalah sejarah pertentangan antara yang abadi dan yang duniawi, antara yang ilahi dan yang manusiawi, antara yang benar dan yang palsu. Franca D’agostini, pemikir kontemporer Italia berbicara tentang La Menzogna, era kepalsuan sebagai tanda dekadensi yang menimpa dunia. Era ini, kalau tidak dijaga dengan baik akan menjerumuskan manusia dan dunianya ke dalam nihilisme, kekuatan gelap tanpa dasar, yang menarik manusia ke suatu jurang radikal, tempat bercokolnya figur-figur gelap dengan wajah seram, yang siap menerkam, menelan dan merusakkan segala tatanan kebenaran, lalu melemparkannya ke dalam ruang hampa.

Kematian Putera manusia di Salib adalah kematian sesuai nubuat. Adalah kematian orang benar, utusan Allah yang diperlakukan secara tidak adil oleh dunia. Itu adalah kematian orang benar yang ditinggalkan sendirian. Tak ada pembelaan. Bahkan orang yang terdekat sekalipun, para murid, semuanya menghilang. Yesaya berkata “Ia akan ditinggalkan, banyak orang meninggalkan dia, begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi … Ia dihina dan dihindari oran … orang menutup muka terhadapnya.”

Namun, kita tahu bahwa kebenaran yang ditinggalkan tidaklah berarti kematian kebenaran itu. Kebenaran yang disakitin bukanlah tanda kehancuran kebenaran itu. Yesaya berkata “Ia akan membuat tercengang banyak bangsa … sebab yang tidak diceriterakan kepada mereka akan mereka lihat, dan apa yang tidak mereka dengar akan mereka pahami.”  Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan Tuhan. Sebagai tunas, Dia akan mekar dan akan selalu tetap mekar. 

Figur suci yang bertumbuh lurus dari kesucian, akan tetap menjaga aliran kebenaran di dalam dirinya. Dia tidak akan kena tulah. Penyakitpun tidak akan merundung dia. Yesaya berbicara tentang penyakit dan tulah, yang hanya akan terjadi di luar dari figur suci itu; dan tentu, semuanya itu - penyakit dan tulah - berada di dalam dunia manusia. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya.”   

Dari semua yang menderita demi kemanusiaan, figur yang paling suci adalah Yesus, Putera Manusia.   Kesalahan-Nya hanyalah rasa cinta-Nya kepada umat manusia.   Namun, dari kaca mata Tuhan, kematian-Nya adalah kebenaran dalam terang rencana keselamatan/kebangkitan.

Yesus bukan dihukum karena melakukan perbuatan jahat, tetapi karena kebaikannya kepada umat manusia. Jika ada sebuah cahaya, sebuah kemerdekaan di dunia, itulah Dia, yang terpaku di salib.  Ia tidak melawan. ia menerima cibiran dan olokan “kalau Engkau raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu.”

Kesetiaan-Nya pada salib hingga wafat adalah kesetiaan pada kebenaran. Kesetiaan itu didasarkan pada rencana besar dari Surga: keselamatan umat manusia. Atas dasar itu, salib bukanlah kengerian; salib adalah sukacita. Salib bukanlah kematian; salib adalah kehidupan. Salib bukanlah kepalsuan; salib adalah kebenaran. Kematian di Salib bukanlah kekalahan Tuhan; itu adalah kemenangan Tuhan karena melalui salib, Tuhan memperlihatkan cahaya maha cahaya: kebangkitan dari alam maut. 

Lewat salib itu, Yesus memperlihatkan kasih agung; dan kasih yang tidak pernah memikirkan dan mencari keuntungan diri. Benarlah kata-kata ini “ketidakadilan menimbulkan hukuman yang paling berat untuk dia yang berjuang menentangnya;” dan karena itu, ketidakadilan adalah dosa terbesar. Hanya kasih, bukan kebencian, yang bisa mendatangkan keindahan.

Kasih Agung itu, di salib, adalah kasih yang menyelamatkan nyawa dengan tanpa kehilangan nyawa-Nya; sebab Dia adalah kehidupan abadi.

Published in Renungan
Tuesday, 31 March 2020 08:09

Kemanusiaan Mengalahkan Segalanya

Bacaan: Bil. 21:4-9, Mzm 102, Yoh. 8.21-30

Hari-hari belakangan ini merupakan masa-masa sulit bagi kita semua. Pandemi COVID-19 telah membuat aktivitas kita menjadi kacau-balau, banyak pertemuan dibatalkan, semua kuliah mahasiswa diliburkan, dan banyak jadwal penting lainnya menjadi terganggu. Banyak sektor kehidupan yang terdampak, khususnya sektor pariwisata, yang mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit.

Namun sebaliknya, di sektor kesehatan, pekerjaan menjadi ekstra dan tak kunjung henti. Banyak orang menjadi cemas dan kuatir bahwa dirinya mungkin tertular virus yang menakutkan ini. Profesi medis, baik dokter maupun paramedis lainnya, menjadi tumpuan harapan banyak pihak untuk merawat dan melakukan pelayanan yang terbaik bagi para pasien yang terjangkit virus SARS-CoV2 ini.

Bila kita merefleksikan apa yang kita alami hari-hari belakangan ini dengan bacaan liturgi hari ini, ada beberapa hal yang menarik dan bisa kita tarik benang merahnya. Pada bacaan pertama, kita lihat bangsa Israel bersungut-sungut dan 'menyalahkan' Tuhan sehingga mereka mengalami masa-masa sulit.

Kisah tersebut mirip juga dengan situasi kita saat ini, di mana himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing kita rasa terlalu berlebihan dan menyulitkan kehidupan sehari-hari kita. Sulit sekali rasanya kita harus melakukan isolasi mandiri di saat kita terbiasa nongkrong bareng teman-teman di kafe dll.

Namun apa yang terjadi selanjutnya di dalam bacaan pertama tersebut, Tuhan menyuruh ular tedung memagut orang-orang itu, sehingga mereka sadar bahwa mereka telah berdosa terhadap Tuhan. Melalui patung ular tembaga pada tiang yang dibuat oleh Musa,  nyawa orang Israel yang dipagut ular tedung diselamatkan. Simbol ular tembaga pada tiang tersebut menjadi bermakna khusus dalam hal ini. Sulit dipahami dan dijelaskan dari segi penalaran logis namun keampuhan ular tembaga yang dibuat Musa berdasarkan amanah Tuhan telah terbukti nyata menyelamatkan umat Israel.

Inilah suatu bukti nyata bahwa jalan karya Tuhan yang kita iman kadang tak mampu dipahami dengan akal kita namun terbukto nyata daya bantuannya. Maka bacaan suci hari ini tentang ular tembaga dihadirkan pada moment yang tepat untuk menyadarkan dan meneguhkan kita bahwa apa pun situasi sulit yang kita alami, Tuhan punya cara menolong kita. apapun daya upaya kita, Tuhan punya jalan tersendiri me olong umatNya baik melalui pertolongan medis yang berikan maupun dengan cara Tuhan sendiri.

Bukan suatu kebetulan bahwa simbol Aesculapius dalam dunia kedokteran identik dengan apa yang disampaikan melalui bacaan liturgi hari ini. Melalui bacaan ini, Tuhan ingin menyapa kita semua, khususnya bagi para pekerja medis, untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap aktivitasnya sehingga bisa menjadi 'penyembuh' bagi semua orang yang membutuhkan.

Ada yang bertanya kepada saya, apakah saya takut menghadapi badai COVID-19 ini? Tentunya dengan bekerja di rumah sakit, risiko terpapar terhadap virus ini menjadi lebih besar. Sebagai seorang manusia biasa, tentunya ada perasaan kuatir dan was-was. Apalagi saat pulang kerja dan bertemu keluarga, risiko menularkan pun menjadi beban pemikiran tersendiri.

Namun, saya pribadi berserah kepada Tuhan, senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kaki, bahwa Tuhan telah mengutus saya dan teman-teman medis lainnya untuk menjadi pembawa harapan dan 'penyembuh' bagi mereka yang membutuhkan. Kami tidak bekerja sendirian karena Tuhan yang mengutus kami pasti menjaga dan memajukan kami.

Kami hanyalah alat Tuhan menyalurkan kuasa kasih penyembuhanNya. Kami tidak mencari nama dan popularitas, tidak pula sok hebat dan sok kuat; namun atas nama kemanusiaan, kami berusaha sekuat tenaga memberikan pelayanan terbaik untuk para pasien dan keluarganya agar mereka merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui tangan-tangan kami. Inilah bakti kami bagi sesama dan Tuhan yang menyempurkan dengan kuasa Ilahi-Nya.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, sumber hidup dan tumpuan andalan kami. Kami bersyukur untuk rahmat kehidupan yang terus Dikau anugrahkan bagi kami semua. Kami serahkan seluruh diri, hidup dan karya pelayanan kami. Tuhan pakai kami sebagai alat-alatMu menyalurkan kasih dan kuasa berkatMu bagi sesama kami khususnya yang teriveksi virus corona. Kuatkan kami Tuhan, mampukan kami dengan kuasa IlahiMu seperti Dikau perbuat kepada Musa dulu agar kami mampu menolong umatMu dengan kuasa Ilahimu sehingga namaMu dimuliakan kini dan sepanjang segala masa. Amin.

 
Published in Renungan
Friday, 21 February 2020 20:15

MEMIMPIN ALA PETRUS

1 Pet.5:1-4; Mazmur23; Matius 16:13 - 19

Sahabat- sahabat Tuhan ytk!

Salam jumpa lagi di pekan keempat bulan Februari 2020 ini. Berkenaan dengan Pesta Tahta Petrus hari ini, kita diajak merenungkan pesan pesta ini khususnya kiprah kepemimpinan Rasul Petrus dalam terang Sabda Tuhan hari ini. Hal Ini penting untuk direnungkan karena setiap kita adalah MURID dan RASUL Tuhan, maka kita perlu memahami identitas dan tugas tersebut.

Injil hari ini mengisahkan moment penting yang merupakan cikal bakal istilah primus inter pares dimana Tuhan Yesus menyerahkan mandat kepemimpinan Gereja secara langsung kepada Rasul Petrus. Injil juga mengisahkan alasan mengapa mandat tersebut diberikan kepada Petrus bukan kepada murid Yesus yang lain.

Petrus diberi kuasa menggembalakan umat Tuhan karena pemahamannya yang jelas dan jernih tentang Siapa sosok Yesus yang sebenarnya. Dengan jawaban atas pertanyaan Yesus menggambarkan wawasan dan pemahaman tentang tujuan kehadiran Yesus di tengah dunia. Dengan demikian Petrus sudah memahami apa yang perlu dilakukan sebagai penerus tugas penggembalaan umat Tuhan.

Pemahaman tersebut tidak terlepas dari kesediaan dan kesetiaan dirinya mengikuti Yesus dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya sehingga membuat dirinya memahami sosok Yesus dan apa peranNya bagi manusia. Karena itu Yesus menyerahkan kepemimpinan kepada Petrus agar dinahkodai.

Secara historis, Rasul Petrus sendiri menjalankan tugas kepemimpinan tersebut selama tiga puluhan tahun hingga digantikan oleh Paus Linus. Rasul Petrus sebagai paus pertama tentu mengalami langsung banyak hal dan peristiwa. Selama puluhan tahun menjalankan tugas kepemimpinan membuat dia belajar memahami apa seyogianya hidup dan berkiprah sebagai seorang pemimpin umat Tuhan. Tak mengherankan tulisan tulisannya merupakan pancaran kebijaksanannya.

Maka tepat sekali Gereja mentampilkan Kata kata bijak Paus pertama ini di pesta Tahta Petrus sebagai inspirasi bagi kita. 2 Nasihat Rasul Petrus itu di bacaan pertama hari ini ditampilkan di bagian akhir renungan ini sebagai refleksi bagi kita semua para Murid dan Rasul Tuhan di zaman Now ini- sesuai tugas dan peran yang sedang dipercayakan Tuhan kepada kita masing - masing

Nasihat pertama, Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri (1Pet. 5:2)

Nasihat kedua, Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu.  (1Ptr 5:3)

Selamat merenung semoga menjadi berkat dan peneguhan bagi kita semua, Amin.

DOA:
Syukur kepada-Mu Ya Allah Tritunggal Mahakudus atas segala anugrah dan kepercayaan yang Dikau anugrahkan kepada kami sebagai murid dan Rasul- Mu. Semoga Nasihat Rasul Petrus di pesta Tahta Petrus ini menginspirasikami untuk mengupayakan perwujudannya secara konkret dalam tugas-tugas penggembalaan yang dipercayakan kepada kami sehingga nama- Mu dimuliakan kini dan sepanjang masa. Amin.

( Oleh P. John Masneno, SUD , Sekretaris Eksekutif Pusat Spiritualitas Sumur Yakub)

Published in Renungan

BACAAN I : YAK 1: 12 – 18
MAZMUR : MZM 94:12 – 13a.14 – 15. 18 – 19
INJIL         : MRK 8: 14 -21

# Judul di atas lebih merupakan sebuah pertanyaan mendasar yang bakal meluruskan pandangan kita tentang peran Tuhan dalam karya penyelamatan manusia dan kontribusi manusia dalam menumpuk dosa. Memang di dalam kedua bacaan hari ini tersirat topik persoalan yang sama meskipun cara melihatnya berbeda. Persoalannya adalah “siapa yang cenderung mencoba dan siapa yang sering dicoba”.

# Yakobus menasihati para pengikut Kristus agar keluar dari sebuah keyakinan bahwa Allah mempunyai tendensi untuk mencobai manusia. Tidak! Allah tidak mencobai siapa pun. Allah  pun tidak dapat dicobai oleh yang jahat. Setiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri karena ia diseret dan dipikat oleh keinginannya. Hal ini dapat terlihat jelas dalam sikap orang Farisi dan Ahli Taurat yang selalu cenderung bertanya pada Yesus hanya untuk mencobai Dia. Kecenderungan mereka untuk bertanya dengan tujuan mencobai Yesus inilah yang memotivasi mereka untuk berkomunikasi dengan Yesus. Inilah ragi orang farisi dan para ahli taurat. Inilah “rasa”/ragi orang Farisi yang selalu meminta TANDA. Padahal Yesus telah membuat begitu banyak tanda, termasuk perbanyakan roti untuk memberi makan ribuan orang. Iman mereka begitu bergantung pada hal-hal yang instan/magical/gebiar sesaat dan lenyap dari peredaran. Ketergantungan pada hal-hal instan inilah yang menyeret mereka untuk selalu mau mencoba Yesus.

# Hal ini tidak dikehendaki Yesus untuk dipanuti oleh para pengikut-Nya. Kalau iman dilandaskan pada hal-hal yang instan – pada tanda-tanda yang artifisial, maka iman itu tidak dalam karena lebih didasarkan pada “rasa” belaka. Oleh karen itu, janganlah mengenakan “rasa” orang farisi supaya kita tidak menjatuhkan diri sendiri ke dalam pencobaan. Manusia cenderung untuk mencoba - mencari tanda yang lebih mujarab untuk mengetahui berapa dalam Allah mencintai manusia. Iman seperti ini sungguh dangkal karena akan didasari pada “like  or dislike” – suka atau tidak suka. Ini sebuah pratanda iman yang dangkal. Yesus sangat menganjurkan kita untuk tidak menghidupi iman yang demikian. Hayatilah suatu iman yang sederhana, otentik dan tidak manipulative.

# Sekali lagi Allah bukan “pencoba/tukang coba” yang mendorong manusia untuk masuk dalam pencobaan. Manusia jatuh ke dalam pencobaan atas dorongan atau hasratnya sendiri. Allah bukan mendorong dia masuk dalam pencobaan. Sering saya sharing guyonan orang yang memplintir doa Bapa Kami dengan kata-kata ini, “Jangan masukkan kami ke dalam pencobaan karena kami bisa masuk sendiri”. Memang ini cuma sebuah guyonan. Namun sebenarnya secara tidak langsung mau menjelaskan bahwa Allah tidak pernah mau memasukkan manusia ke dalam pencobaan. Allah juga melalui Yesus Kristus – anak-Nya yang tunggal menghendaki agar manusia JANGAN MENJADI TUKANG COBA atau TUKANG DORONG/RAYU ORANG LAIN untuk masuk dalam pencobaan. (Mudah-mudahan segera ada realisasi penggunaan perubahan formulasi doa BAPA KAMI dari “jangan masukkan kami ke dalam pencobaan” ke formulasi yang baru “jangan biarkan kami masuk ke dalam pencobaan”/let us not into temptation).

# Kita mestinya seperti Allah sendiri. Allah kita adalah Allah yang menghendaki KEHIDUPAN. Pemazmur hari ini menegaskan jika Tuhan tidak akan membuang umat-Nya, milik pusaka-Nya tidak akan Ia tinggalkan. [Ketika aku berpikir, “kakiku goyang! Kasih setia-Mu, ya Tuhan, menopang aku…,] Tuhan adalah Bapa yang sungguh baik. Tak mungkin dia menghendaki dan bahkan mendorong anak-anak-Nya masuk ke dalam pencobaan. Ingat kisah Penciptaan. Allah tidak menyiapkan kondisi bagi Adam dan Hawa untuk masuk dalam pencobaan. Mereka berdua masuk dalam pencobaan karena memang hal itu atas keinginan atau kecenderungan mereka berdua sendiri. Mereka mengimpikan suatu keadaan di mana mereka dapat memiliki segala kemampuan sebagaimana Allah sendiri. Kita manusia pun tidak dikehendaki Allah untuk tinggal dalam kecenderungan untuk mencobai Allah dan sesama di sekitar kita. Hendaknya kita, oleh tuntutan Roh Kudus, menguasai diri kita agar tidak masuk dalam pencobaan, dan tidak menyeret orang lain untuk masuk dalam pencobaan yang sama bahkan tidak menggiring sesama untuk MENCOBAI  sesamanya. Mari kita jalani hari ini dengan satu kesadaran bahwa TUHAN TIDAK MEMBERI KITA COBAAN MELAINKAN KITA YANG BERHASRAT UNTUK MASUK DALAM PENCOBAAN.

Have a wonderful day filled with love and mercy. Greetings from Masohi manise…..

Oleh Romo Pius Lawe, Svd.

Published in Renungan
Page 1 of 5

Kegiatan Terbaru

...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohan...

25 October 2023
...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5)

Bagaimana menyelaraskan nilai-nilai iman sejati dengan kecanggihan art...

PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

19 October 2022
PERAN SABDA DALAM GEREJA MISIONER

Pada hari Sabtu, 15 Oktober 2022 yang lalu, Komunitas Verbum Domini (K...

BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

18 October 2022
BILBE ZOOM IV PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA KARDINAL SUHARYO

Bible Zoom-Youtube Live-Streaming diadakan lagi oleh Tim Pengurus Pusa...

BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTE...

16 October 2022
BILBE ZOOM III PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA MGR. DR. SILVESTER SAN

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

14 October 2022
BILBE ZOOM II PUSPITA SUMUR YAKUB BERSAMA P. LUKAS JUA, SVD

Tim Pengurus Pusat Spiritualitas (Puspita) Sumur Yakub SVD-SSpS Indone...

Tentang Kami

Nama yang dipilih untuk sentrum ini adalah “Pusat Spiritualitas Sumur Yakub” yang mempunyai misi khusus yaitu untuk melayani, bukan hanya anggota tarekat-tarekat yang didirikan Santu Arnoldus Janssen saja tetapi untuk semua... selebihnya

Berita Terbaru

©2026 Sumur Yakub - Pusat Spiritualitas. All Rights Reserved.

Search